Kenang mengenang
April 8, 2008 by gerimisbogor
Ada yang pernah berkata, semakin seseorang mengenang masa lalu, maka semakin tualah ia. Hanya orang yang telah menua yang bisa mengenang, karena ketika berada dimasa muda semuanya belumlah menjadi kenangan, itu baru perjalanan.
Kata-kata itu membuat aku merasa tua, karena akhir-akhir ini aku suka sekali mengenang masa lalu. Masa dimana semua masih ku kenal dengan lengkap. Tidak ada yang telah terkubur sepi, atau setengah mati kukuburkan dengan menjejalkan doktrin bahwa orang itu telah mati.
Pontianak adalah kota yang teramat aku rindu.. walau mungkin kota itu tidak menerimaku dengan sumringah kala aku datang. Walau mungkin tak ada lagi jalan-jalan sunyi yang aku lalui dengan hati bungah karena baru saja menerima senyum indah atau diantar pulang oleh si idaman gila..! Namun yang pasti tidak ada lagi Bu Bas. Maka rasanya dada ini penuh haru mengingatnya.
Bu Bas adalah ibu dari Eva, beliau tetanggaku. Kerjanya setiap hari merutuki aku dan Eva "Dasar pemalas kutu’ kita’ bedua! Jadilah bedua ni! Belumut dalam kamar tu..!" Aku dan Eva tumbuh bersama dari kami kelas tiga SD sampai aku melanglang buana ke Bogor. Tak pernah bertengkar sekali pun. Bu Bas adalah orang yang paling kesal kalau aku sudah berada di kamar, karena susah untuk keluar meskipun hanya sekedar makan.
Walaupun kamar itu penuh berantakan. Aku tak akan ambil pusing akan omelannya dan juga tak aku hiraukan anjuran untuk membersihkan kamar. Eniwey, ini kan kamar aku, suka-suka aku dunks!
Lalu dengan gemas beliau membersihkan buku-buku yang bergelimpangan, majalah, koran, baju-baju.. "anak gadis pemalas kutu’..!" rutuknya lagi. Dia pun tetap akan memarahiku kalau aku ngambek karena dimarahi. Semua yang dilakukannya adalah marah-marah sama aku. Kadang aku pikir apa orang ini tidak punya kerja lain? Setiap hari marah-marah dan pasti tujuan utamanya adalah aku.
Salah, karena Bu Bas punya sejuta kegiatan dan semuanya berhubungan dengan masakan. Ok, kalau masakan Bu Bas, aku selalu makan, selalu suka, selalu ingat, selalu kangen lagi. Selalu Bu Bas, Selalu…
Hubunganku dengan Bu Bas lama-lama menjadi benci tapi rindu. Aku yang selalu kesal dan juga mengesalkan ini lebih aman bercerita mengenai apapun padanya. Seperti halnya Eva lebih aman bercerita apapun pada Ibuku. Kita berganti Ibu agaknya hehehe.
Hidup Bu Bas itu penuh liku sejarah yang benar-benar butuh kemampuan besar untuk menghadapinya. Ibuku dan Bu Bas adalah teman yang paling akrab sejak pertama kali bertemu. Sesekali kulihat matanya basah. Aku tak berani bertanya. Ketika orang tua memperlihatkan kelemahan seperti itu aku selalu merasa bersalah. Mereka tak pernah menunjukkan bahwa mereka juga manusia yang bisa sedih. Kadang aku akan bersikap lebih baik dan lebih penurut kalau kulihat Bu Bas tampak galau.
Ketika Ibuku yang sangat super duper aktif itu jarang berada di rumah, maka aku akan mencari Bu Bas, hanya sekedar mencari suara-suara yang akan memarahiku tentang ini dan itu dan juga menyuruhku makan. Aku akan dengan santai mengambil piring dan nasi dan menghabiskan lauk yang ada dirumahnya kemudian berjalan pulang, tanpa beban. Begitu juga dengan mereka. Tak pernah ada perhitungan atau ketakutan bahwa masakan akan habis atau saatnya pembalasan kita habiskan makanan dirumahnya.
Beberapa lama aku tak ada di Pontianak. Aku rindu mendengar suaranya Bu Bas, aku hanya ingin mengabarkan kalau aku kangen, kangen sama masakannya. Kangen Bu Bas, kangen Pontianak. Dia mendengar, dan dia menangis haru, karenanya dia letakkan telp dan meminta orang lain bicara denganku karena beliau tak mampu lagi bicara. Rindu itu menyesakkan dadanya. Ah.. kemudian aku merasa seperti anak yang tak berbakti. Berapa lama aku tak memberi kabar tentang diriku, tentang kelakuanku yang mengesalkan ini.
Ketika aku pulang kesana, beliau membuatkan semua masakan kegemaranku. Semua. Betapa senang hatinya dengan lahap aku habiskan semua. Bahkan Eva menjadi jealous karena aku yang boleh makan sebanyak-banyaknya daripada dia, heii itu adalah pertengkaran pertamaku.. hehehe.
Ah.. kemudian aku mendengar beliau sakit. Melihat perjalanan hidupnya maka adalah hal yang aneh mendengar orang sekuat itu bisa sakit?
Aku berteriak di malam itu, maki aku lagi, maki saja aku tak perduli. Jangan Pergi… Jangan…!
Kepada Bu Bas
aku tahu malam-malam panjang itu
penantian pada bintang membawa seorang nelayan berlabuh pada pulau yang tandus
maka ia mencari pulau lain
aku tahu ketika ia kembali ke pulau itu ada pohon bertumbuh
lalu seseorang menanam kembang indah yang membuatnya cantik
dan aku ikut bernyanyi bersama kupu-kupu
malam menjadi riang bersama tarian ombak dan nyanyian karang
tapi hidup memberi jalan tak mulus
aku tahu
aku lihat sebuah keindahan yang tiada tara
aku lihat tsunami yang menghancurkan segala
aku lihat matahari memanas
aku melihatmu menjadi bintang dalam setiap drama
dan kini drama itu selesai
peranku tak besar, aku tahu
tapi dirimu..
berarti dalam setiap langkahku
Sebuah rindu pada Bu Bas, Bunda kedua.
Semoga Bu Bas tahu, kalau aku sayaaanggg banget sama Bu Bas. Semoga doaku selalu sampai ya.. Aminn