ohh library
November 11, 2008 by gerimisbogor
Gara-gara cerita si Hasni yang mau nganterin temennya ke perpustakaan, jadi inget deh waktu itu, perpustakaan merupakan tempat yang paling sering di kunjungi.
Waktu kuliah dulu dalam hidupku sebenarnya lebih banyak dipakai untuk online (pacaran hehehe) baca buku, menulis, menghayal. Nongkrong pinggir jalan bareng teman-teman yang sepikiran sambil gossip or diskusi-diskusi kecil masalah ringan. Pastinya waktuku lebih banyak di perpustakaan. Gila, hidupku terdengar sangat membosankan ya..?
Mungkin karena diriku itu cenderung menjadi penyendiri. Lebih banyak membiarkan diri membaca buku or menulis (yang ternyata belum pernah menghasilkan, lahh yang ditulis bukan sesuatu yang popular dan juga bukan teori maha dahsyat).
Bahkan aku punya cerita tentang sebuah accident di perpustakaan. Mau tahu ceritanya..?
Hihihi… ini cerita ngga penting sih, dulu agak membuatku kesel dan takut, sekarang membuatku tersenyum mengingatnya.
Waktu itu sedang asyik-asyiknya cari buku untuk skripsi. Seorang kawan dari jurusan kriminologi (yang entah kenapa pada saat itu sering sekali bertemu dia) menemani. Kita pergi ke perpustakaan pusat bersama-sama. Berjalan dibawah pohon karet yang tinggi menjulang itu. Rambutku saat itu panjang, hampir sepinggang dan dikeriting sedikit keriwli2 yang sangat menyenangkan untuk dipegang-pegang.
Kita naik ke lantai atas tempat disertasi, ensiklopedi dan beberapa hasil seminar yang hanya boleh di baca di tempat tidak boleh di bawa pulang.
Wuu tempatnya sepi. Temanku ini lakilaki. Dia bertubuh tinggi besar, putih dan sedikit chubby. Wajahnya lucu seperti bayi. Dia Manis. Aku panggil dia Dendon.
Awalnya aku dan dia terpisah, karena buku yang kita ceri beda-beda. Tampaknya dia sedang bosan.
Karenanya tiba-tiba dia ada di belakang mengagetkanku.
“Aduhh.. kaget tahu..” ucapku saat tiba-tiba dia ada tepat dibelakangku dengan diamdiam.
Dia tersenyum, lalu tangannya yang iseng memilin-milin rambutku. Karena rambut itu panjang, jadi aku tak begitu terganggu. Beberapa buku aku ambil dan bawa ke sebuah meja baca. Meja baca itu untuk satu orang. Dia duduk di belakangku. Posisinya saat itu saling membelakangi jaraknya sekitar 50 meter. Tiba-tiba aku merasa rambutku sedikit tertarik. Suasana sepi di ruangan itu sedikit menakutkan. Ternyata dengan begitu iseng Dendon menarik-narik rambutku yang keriwil2 itu.
“Den, kepala gw ketarik, apaan siy main-main rambut..” gusarku
Wajah itu aneh, dia tersenyum nakal.
“Biarin..” jawabnya lagi,
Aku menarik rambutku. Kemudian mulai membaca buku lagi. Dan anak itu kembali melakukan hal yang sama.
“Dendon, gw lagi baca, jangan tarik-tarik rambut gw..!” ucapku lagi masih dengan tertawa-tawa kecil.
Walhasil anak itu melakukannya lagi dan lagi dan lagi. Sangat mengganggu.
“Den, udah deh, gw lagi serius, ngga main-main.”
Kali ini aku mulai emosi. Lalu dia pun diam. Tapi tak lama, dia mulai lagi menarik-narilk rambutku. Hhhhh.. itu adalah saat dimana emosiku sudah hampir mau meledak.
Ketika aku menoleh, dia sengaja mengambil rambutku dan menciumnya. Aku terkejut. Karena gerakannya terekam dalam ingatanku seperti slow motion dan dia memberikan tampang yang menantangku untuk marah. Kemudian yang dia lakukan ketika aku masih terkejut itu adalah menarik tanganku dan mengecupnya. Tiba-tiba hatiku berdebar cepat. Suasana hening di perpustakaan membuatku bergidik.
Pikirku, ya ampun si Dendon kenapa…? kok jadi aneh gini…? jangan-jangan dia kemasukan…!Wahhh… aku takut….!! Si Dendon kenapa…? Aku tarik lagi tanganku lebih kuat, dia tidak melawan dan membiarkan tubuhnya juga ikut tertarik. Kali ini dia jadi lebih dekat denganku dan aku bisa mendengar suara nafasnya.
Wah…?? Dendon kenapa…?? Wajahnya jadi dekat dengan wajahku. Aduhh dia mau ngapainnn…? Aku jadi kikuk. Tak sengaja aku melihat jam di dingding. Kemudian aku berteriak kaget, “Haaa….. udah jam tiga…?” Serta merta suasana sepi membuat suaraku terdengar jelas. Penjaga perpustakaan memandang ke arah kami. Dendon melepaskan tanganku dan berdiri agak menjauh.
Haaahhhhh.. betapa leganya.
Pikirku lagi oowww dia bukan kemasukan, dia gila.
Kesempatan itu membuatku begerak cepat, siap-siap keluar. Dan berjalan setengah berlari.
Dendon mengejarku dari belakang “Han, tunggu…!” aku ngga pernah tega ninggalin orang di belakangku.
“Gw mesti buru-buru udah janji sama oma pulang cepet..” ujarku sambil menoleh ke belakang.
Kemudian bergerak secepat-cepatnya. Dendon berlari menjejeriku, tepat di jalan setapak di bawah pohon-pohon karet yang tinggi itu. Dia berusaha menggapai tanganku.
Aku segera memegang tas agar tidak ada bagian dariku yang terpegang olehnya.
Dengan nafas terengah dia berkata “Lo ngga mau pulang bareng gw aja..?”
Aku berjalan cepat ”Ngga bisa udah janjian sama oma. Lagian sekarang kita juga lagi bareng.”
“Ke kampus dulu, gw mesti ambil sesuatu.” Ucapnya lagi.
“Udah sore Den, sorry..” ucapku.
“Kita juga akan lewat kampus kan..” jawabnya cepat.
“Sorry.. ngga enak sama Oma…” ucapku lagi. “Sekarang juga kita bareng sampai kampus. Yukk gw duluann”
Lalu aku berlari menuju stasiun UI dan beruntungnya kereta ke bogor. Segera melompat ke dalam kereta sambil menenangkan hati yang deg-deg serr.
Keesokan harinya, aku berusaha untuk tidak terlihat, di perpustakaan, dikantin atau di warnet. Dengan berhati-hati menghindari Dendon. Hingga tidak sengaja aku turun dari tangga perpustakaan dan terdengar namaku dipanggil, tiba-tiba muncul dari plasa Fisip seorang Dendon. Duhh.. padahal secara tampilan dia bisa bersaing dengan Abang jakarte yang seangkatan sama aku. Berjalanlah Dendon dengan sebatang rokok di tangan sambil memberikan isyarat untuk menunggu, wajahnya yang putih, chubby dan innocent kayak bayi itu.
Aduhh sebenarnya dia sangat menarik.
Dia kemudian berdiri di depanku “Balik ke bogor Han?” so… basa-basi.
“Aku juga mau ke bogor, aku ngga tahu jalan, bisa tolong bantu?”
“Hmhhh.. mau ke bogor kapan?” jawabku lagi.
“Nanti deh aku beri tahu kalau udah deket waktunya. Ke kebon raya deket ngga sih..?”
“Deket banget, asal jangan pacaran yah disana, hati-hati putus.. hehehe”
“Ngga kok, aku ngga pacaran disana. Aku mau ngejar kamu, sampai kemanapun kamu pergi aku akan tetap ngejar kamu.” ada jeda disitu. Wajahnya sangat serius.
“Ok, jangan lupa ya, nanti temani kalau di Bogor.”
Lalu dia pergi. Dan kemudian aku berlari. Aku berlari ke Taman korea. Duduk disana dan memesan segelas air. Hatiku berdebar. Wahh Dendon sudah gila..!!
Hehehe… inget deh waktu itu. Dendon setiap kali pulang kuliah selalu berusaha nganterin sambil berjalan di jalan setapak yang penuh pohon karet itu sampai ke stasiun sambil bilang, “aku lagi PDKT” sambil tersenyum mau-malu. Dia masih bikin aku trauma saat itu. Kemudian entah kenapa seorang perempuan cantik memandangku tak rela. Menarik Dendon pergi menjauh. Dendon sempat memilih tetap bersamaku. Tapi aku memilih Dendon untuk berjalan dengan perempuan itu. Walau dia tetap terus mengabariku sampai kita sama-sama lulus dan mencari kerja. Kemudian handphone hilang.
End of the story.