Ngga Level…?
December 17, 2008 by gerimisbogor
Tertegun juga waktu tanpa sengaja menonton acara salah satu reality show di TV sore kemarin. Ketika mereka (gank perempuan dalam kisah itu) bercerita tentang “ngga level”.
Sebelumnya sempat kesal bukan kepalang, ketika mereka bilang betapa tidak level buat gank mereka untuk jalan-jalan dan belanja di pinggir stasion bogor (tempat yang sangat familiar buatku..!) Huuhhh.. itu kan menunjukkan betapa tidak levelnya aku dimata gank anak kuliahan yang ngga tahu betapa sulitnya membanting tulang untuk mendapatkan uang. Dohh!!
Hidupku selama ini memang tidak berlebihan, tapi tidak juga kekurangan. STD lah, masih bisa makan, masih bisa kuliah, masih bisa nonton, nge net, masih bisalah untuk jalan-jalan. Hidup yang sekarang ketika sudah memiliki pekerjaan lebih baik dari sebelumnya, Alhamdulillah.
Mereka yang masih dijajanin sama orang tua, bisabisanya bilang orang lain tidak level…? Heiiii…??!!
Dan aku akan bilang, pagipagi didaerah situ ada lontong padang yang enak bangethh, yang harganya emang murah tapi berkelas lontong padang aseli..! bikin sebel deh. Ngga level…? Haaahh
Daerah syuting acara itu berada di daerah taman topi dan stasion bogor. Stasion adalah tempat yang sangat akrab denganku selama bertahuntahun. Karena kalau kuliah ya pasti ke stasion. Jarang sekali berangkat kuliah tanpa naik kereta, cara tercepat dan termurah, untunglahh.
Karena itu tak terpikir untukku menilai seseorang yang berangkat naik kereta sebagai orang yang ngga level, karena teman-temanku terpelajar dan juga pintar-pintar. Mereka beredar di sekitar stasion lho…!! Beli alat tulis, beli buahbuahan. Beli sepatu or sandal yang lagi happening, buat ganti2 kalau kuliah… bahkan cari bukubuku yang di minta oleh dosen yang terbit 10 tahun dari saat itu di tempat buku bekas. Betapa stasion adalah tempat yang sangat berharga di dalam perjalanan hidup pelajar bogor, khususnya untuk seorang Hanni.
Secara financial, aku hanya tahu sekedarnya kalau temantemanku itu paling tidak std juga seperti aku, setidaknya mereka masih asik diajak temenan. Sejauh mereka ternyata bapaknya anggota dewan, atau punya pabrik or perusahaan yang tersebar di Indonesia, aku hanya tahu sekilas. Tidak terlalu penting, karena aku tidak bergaul dengan orangtuanya.
Tak selamanya juga seorang yang pandai dalam organisasi, pintar dalam menuangkan teoriteori ketika akan presentasi atau tugastugas. Mereka tetap harus membaca dan mengerti apa yang harus mereka katakan dalam presentasi dan menyelesaikan tugas. Disana akan ditemukan dinamika kehidupan. Tak selamanya orang yang memiliki IP rotring akan terus begitu, karena aku tahu seorang kawan yang akhirnya lulus dengan predikat cum laude walau di semester awal nilainya susah dilihat. So… apa yang bisa membuatmu (adikadik yang masih kuliah dan sekolah..) untuk menilai seseorang itu ngga level..???
Sejauh yang aku tahu dalam hidup ini semua bergerak dengan tidak pasti. Tidak selamanya orang menjadi kaya terus menerus, atau miskin terus menerus. Soal pintar atau tidak itu juga bukan semata-mata otak saja, tapi soal niat mencari ilmu dan kebutuhan..
Contoh:
Aku mengenal seseorang yang dalam hidupnya pernah merasakan berlebihan dan pernah merasakan kekurangan. Dalam kekurangannya dan kebutuhannya akan uang, dia melihat bentuk tas yang cukup sederhana. Penuh keingintahuan dia membongkar tas sederhana tersebut. Lalu kemudian berusaha untuk membentuknya kembali. Tidak mudah memang, tapi karena niat yang sungguhsungguh, dia pun berhasil. Tak lama dia pun menjual tas. Karena tas tersebut lebih cocok dengan padanan sepatu. Maka mulailah dia membongkar sepatu dan berusaha merakitnya kembali. Sepatu pun terbentuk.
Lalu petualangan pun dimulai.
Petualangan itu takkan terjadi jika tak ada kepintaran untuk membuat sesuatu. Kepintaran itu terjadi karena kebutuhan hidup. Selalu ada korelasi antara kebutuhan dan juga cara menyiasatinya. Hanya butuh niat.
Niat. Aku teringat dengan seorang teman yang sembuh dari ketergantungannya terhadap narkoba. Dia sembuh sendiri, begitu pengakuannya. Karena satu hal, niat. Itu terjadi kepada hampir semua teman yang terjerumus masuk dalam ketergantungan narkoba. Karena mereka tidak perduli akan apapun kalau bukan dari niat mereka sendiri.
Lalu apakah adikadik yang masih sekolah dan kuliah itu dari awal memang berniat untuk tidak melevelkan dirinya dengan orangorang yang tersebut diatas tadi..?
Oohh betapa dangkalnya pemikiran ngga level itu… (meski tahu acara ini sudah ada skenarionya, tetep aja masih kesel)
Sejauh ini memang hidupku mungkin bias dengan gampang disebut orang ngga level. Terutama ketika aku bertemu dengan orang-orang dari benua lain dan berbagi pengalaman yang sungguh tidak terbayangkan untuk seorang aku, atau bertemu dengan orang yang bergeda bidang dan penglaman yang berbeda. Meski begitu, mereka tidak memposisikan aku sebagai orang ngga level, semakin mereka telah melihat dan merasakan pengalaman yang banyak, semakin mereka berpikiran lebih luas. Karenanya mereka lebih menghargai orang lain.
Kesimpulanku inilah saatnya menghargai orang lain, bukan karena dia pintar atau kaya. Menghargai orang karena semua manusia memiliki nilai tersendiri, yang tak patut untuk kita nilai dengan keterbatasan kita sebagai manusia.
Hahahahahaha….Gooood han..Harus’y tulisan lu ini dimasukin kebuletin2 sekolah&kampus..agar mereka tau bgmn memperlakukan manusia lain :).
Tapi ga usah tll sewot bin suebel han…mereka msh dlm tahap proses pendewasaan diri mencari jati diri..n yg pasti blm merasakan pahit getir kehidupan. hehehe.
Ga semua anak ABG kaya yg di tipi ituh kok…byk jg adik2 qta yg peduli&bs menghargai orang lain. Intinya tergantung lingkungan, pergaulan, keimanan, & matangnya mereka. So…qta doain semoga mereka tersadar bhw qta ini sama.
Daerah stastiun “Engga level”..itu bt mrk..bt qta&byk org stasiun bogor itu “IYA buanget”.
Btw ttg stasiun bgr…gw seneng sm bntuk bgnan yg msh jadul ituh :). Kpn qta jln2 kota tua lg?